Berita

Pendataan Bangunan Stasiun Kedundang dan Stasiun Wates


Tuesday, 19 March 2019 Di Posting Oleh Admin

Kereta api menjadi salah satu moda transportasi yang mampu menghubungkan sejumlah daerah. Jalur pertama Semarang – Kedungjati diresmikan pada tahun 1871, selanjutnya jalur Batavia – Buitenzorg dibuka pada 1873 dan jalur Surabaya – Batavia pada tahun 1878. Pembukaan jalur kereta api ini menandai kian berkembangnya perekonomian di Pulau Jawa. Pengembangan moda transportasi kereta api pada awalnya dihubungkan dengan sejumlah daerah yang memiliki potensi, salah satunya adalah Yogyakarta. Pembangunan rel kereta api di Yogyakarta berkaitan dengan potensi sumber daya alam di Yogyakarta, yaitu perkebunan.

Ada dua perusahaan besar di Jawa yang mempunyai konsesi pengelolaan jaringan kereta api , yaitu SS (Staatsspoorwegen) dan NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg). Untuk wilayah Yogyakarta, stasiun besar yang didirikan SS (Staatsspoorwegen)  adalah Stasiun Tugu. Sedangkan stasiun besar milik NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg) adalah Stasiun Lempuyangan. Sepanjang jalur kereta api Yogyakarta – Cilacap dibangun beberapa halte/stasiun kecil yaitu  Patukan, Sedayu, Rewulu, Sentolo, Kalimenur, Wates, Pakualaman dan Kedundang. Pembangunan stasiun ini juga diikuti dengan mendirikan sejumlah rumah dinas yang ditempati para pengelola stasiun.

Wilayah Kota Yogyakarta banyak memiliki warisan pusaka budaya berupa cagar budaya, khususnya bangunan-bangunan yang mempunyai nilai sejarah. Cagar budaya tersebar diberbagai tempat dan banyak yang belum diketahui oleh masyarakat, padahal objek peninggalan tersebut mempunyai nilai penting bagi ilmu pengetahuan, sejarah, dan kebudayaan. Pesatnya pembangunan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sangat berpengaruh pada terjadinya perubahan tata kota yang sangat erat kaitannya dengan lahan yang  tersedia dan bangunan yang ada di atasnya. Tidak sedikit pelaksanaan pembangunan mengakibatkan terjadinya perubahan bangunan, dalam arti bangunan yang sudah ada dirubah menjadi bangunan baru sesuai kebutuhan dan keinginan pemilik. Terjadinya perubahan bangunan yang tidak memperhatikan nilai-nilai arkeologi dan perusakan bangunan merupakan peristiwa yang banyak menimpa cagar budaya. Hal ini sangat bertentangan dengan UU No.11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Untuk itu, sebagai upaya represif perlindungan cagar budaya dan action dalam pelestarian cagar budaya, maka diadakan kegiatan pendataan bangunan seperti Bangunan Stasiun Kereta Api Kedundang dan Stasiun Wates pada tahun 2019.

 



Back to top