Berita

Siaran Pers Jelajah Budaya 2018 "Menggali Nilai-Nilai Pancasila dari Cagar Budaya"


Thursday, 27 September 2018 Di Posting Oleh Admin

Pembangunan bangsa tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan modal kekayaan sumber daya alam melimpah yang dimiliki bumi Indonesia, namun juga perlu diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Untuk bisa menjadi bangsa yang besar dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia, bangsa Indonesia memerlukan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas, tapi juga berkarakter yang mencerminkan kepribadian bangsa. Hal itu penting, karena dengan karakter yang khas itulah yang akan menjadi penanda identitas, sekaligus  jati diri bangsa Indonesia di tengah pusaran pertarungan budaya bangsa-bangsa lainnya, yang saling berebut pengaruh dalam kehidupan masyarakat global.

Ikhtiar membangun manusia Indonesia dapat dilakukan dengan menyelenggarakan pendidikan karakter bagi generasi muda.  Ada beragam cara penanaman pendidikan karakter, salah satunya yaitu dengan menyelenggarakan program pendidikan luar sekolah yang berbasis internalisasi nilai-nilai budaya (edukatif-kultural). Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai unit pelaksana teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki tugas melakukan pelestarian Cagar Budaya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelestarian Cagar Budaya tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan keberadaan fisik Cagar Budaya saja, namun juga menjaga nilai-nilai penting yang terkandung di dalamnya, yang berguna bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan. Caranya yaitu dengan menginternalisasi nilai-nilai penting tersebut kepada khalayak luas melalui berbagai program pendidikan berbasis edukatif kultural, salah satunya yaitu Jelajah Budaya bagi pelajar.

Setiap tahun Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta bekerja sama dengan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta rutin menggelar Jelajah Budaya dengan tema yang berbeda-beda. Pada tahun 2018, Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta berencana menggelar Jelajah Budaya bertema “Menggali Nilai-Nilai Pancasila dari Cagar Budaya” yang akan dilaksanakan pada 30 September 2018.

Tema Jelajah Budaya kali ini difokuskan pada upaya penggalian nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalam Cagar Budaya. Upaya penggalian nilai-nilai Pancasila ini untuk memahami realita sejarah lahirnya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Kata Bung Karno, sebenarnya nilai-nilai Pancasila itu sudah mengakar kuat dalam kehidupan bangsa Indonesia sejak zaman dahulu. Pancasila tidak lain merupakan falsafah hidup bangsa yang bersumber pada nilai-nilai kehidupan adiluhung yang diajarkan nenek moyang bangsa Indonesia.

Semangat untuk menggali nilai-nilai Pancasila  dalam kegiatan Jelajah Budaya kali ini juga dalam rangka menyongsong peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati sehari sesudah pelaksanaan Jelajah Budaya, yaitu pada tanggal 1 Oktober 2018. Pada kegiatan Jelajah Budaya yang ke-13 ini akan membuktikan bahwa nilai-nilai Pancasila masih relevan digunakan sebagai panduan hidup bagi generasi muda dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang beraneka ragam budaya.

Peserta Jelajah Budaya yang terdiri atas 250 pelajar pramuka tingkat penggalang perutusan Kwartir Cabang se-Daerah Istimewa Yogyakarta akan mengunjungi dan menggali nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam warisan budaya dari peradaban Mataram Kuno, yaitu Candi Kalasan dan Candi Banyunibo.

Nilai-nilai Pancasila yang Terkandung dalam Candi Kalasan dan Banyunibo

Candi Kalasan terletak di Dusun Kalibening, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejarah berdirinya candi yang bernapaskan agama Buddha ini dapat dilacak melalui isi prasasti Kalasan. Prasati Kalasan berbahasa Sansekerta dan ditulis menggunakan huruf Pre-Nagari. Dalam prasasti tersebut dijelaskan tentang adanya sebuah desa bernama Kalasa dan pendirian sebuah kuil untuk pemujaan Dewi Tara pada tahun 700 Çaka (778 Masehi) oleh dua orang raja dari wangsa yang berbeda yaitu seorang raja dari wangsa Çailendra yang beragama Buddha dan seorang raja bernama Panangkaran dari wangsa Sanjaya yang beragama Siwa.

Kerja sama pembangunan Candi Kalasan yang dilakukan oleh dua orang raja yang berasal dari dua wangsa dan agama yang berbeda telah menunjukkan bahwa pada masa itu sudah tercipta kehidupan yang harmonis antar umat beragama. Dari sejarah pendirian Candi Kalasan, kita dapat menggali nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalamnya, terutama dalam hal menjunjung tinggi toleransi. Sejarah pendirian Candi Kalasan telah mencerminkan butir-butir pengamalan Pancasila, antara lain sebagai berikut.

o  Mengembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut agama yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Butir Ketiga pada Sila Pertama – Ketuhanan Yang Maha Esa).

o  Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Butir Keempat pada Sila Pertama – Ketuhanan Yang Maha Esa)

o  Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia (Butir Ketiga pada Sila Kedua – Kemanusiaan yang Adil dan Beradab)

o  Mengembangkan sikap tenggang rasa dan tepa selira (Butir Ketiga pada Sila Kedua – Kemanusiaan yang Adil dan Beradab).

o  Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan (Butir Pertama pada Sila Ketiga – Persatuan Indonesia).

Candi kedua yang menjadi sumber belajar bagi peserta Jelajah budaya dalam menggali nilai-nilai Pancasila juga bercorak agama Buddha yaitu Candi Banyunibo. Candi Banyunibo terletak di Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbeda halnya dengan Candi Kalasan yang sudah diketahui sejarah pendiriannya, riwayat pembangunan Candi banyunibo belum dapat diketahui karena belum ditemukan bukti arkeologis yang menunjukkan tentang siapa pendiri dan kapan pembangunan Candi Banyunibo. Oleh karena itu, peserta Jelajah Budaya nantinya akan diarahkan untuk menggali nilai-nilai Pancasila dari Candi Banyunibo dari aspek yang lainnya, yaitu dari relief cerita yang terpahat pada dindingnya.

Pada dinding sisi utara Candi Banyunibo terpahat relief cerita tentang Dewi Hariti yang dikerumuni anak-anak yang sedang bermain-main dan memanjat pohon. Pada mulanya Dewi Hariti merupakan raksasa perempuan yang jahat dan gemar memakan anak-anak. Setelah mendapat pencerahan agama Buddha, ia kemudian menyadari bahwa perbuatan yang dilakukannya salah.  Sejak saat itu Dewi Hariti bertekad menebus kesalahannya dengan berbuat kebajikan menjadi dewi pelindung anak-anak dan dewi kesuburan. Biasanya relief Dewi Hariti dipahatkan pada bilik-pintu candi-candi Buddha sebagai teladan bagi orang-orang jahat.

Dari relief cerita Dewi Hariti yang terpahat di Candi Banyunibo, kita bisa menguraikan nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalamnya, antara lain sebagai berikut.

o  Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain (Butir Kelima pada Sila Kedua – Kemanusiaan yang Adil dan Beradab).

o  Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan (Butir Keenam pada Sila Kedua – Kemanusiaan yang Adil dan Beradab).

o  Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan (Butir Ketujuh pada Sila Kedua – Kemanusiaan yang adil dan Beradab).

o  Berani membela kebenaran dan keadilan (Butir Kedelapan pada Sila Kedua – Kemanusiaan yang adil dan Beradab).

o  Setiap manusia memiliki kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama (Butir Pertama pada Sila Keempat – Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan).

o  Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain (Butir Kedua pada Sila Keempat – Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan).

o  Mengembangkan perbuatan luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan (Butir Pertama pada Sila Kelima – Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia).

o  Mengembangkan sikap adil terhadap sesama (Butir Kedua pada Sila Kelima – Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia).

o  Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban (Butir Ketiga pada Sila Kelima – Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia).

o  Menghormati hak orang lain (Butir Keempat pada Sila Kelima – Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia).

Mengajak pelajar untuk menggali nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalam Cagar Budaya merupakan upaya Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta dalam membina generasi muda berkarakter yang selaras dengan budaya bangsa Indonesia. Harapannya, melalui kegiatan Jelajah Budaya ini akan lahir tunas-tunas muda generasi Indonesia yang kelak tumbuh menjadi manusia Pancasila seutuhnya, yang mampu membangun Indonesia lebih maju dalam menjawab tantangan perkembangan zaman tanpa harus kehilangan identitas, jati diri dan kepribadian bangsa.

 

  Yogyakarta, 18 September 2018 

 

Jelajah Budaya Pelajar  Tahun 2018

 

Tema                     : Menggali Nilai-Nilai Pancasila dari Cagar Budaya”

Waktu                    :  Minggu, 30 September 2018, Pukul 08.00 WIB – selesai

Pembukaan            : Candi Kalasan – pukul 08.00 WIB

Acara dibuka oleh Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta,

Dra. Ari Setyastuti, M.Si.

Penutupan           : Candi Banyunibo

Rute Perjalanan  : Candi Kalasan (start) è Situs Watugudig è Candi Banyunibo (finish)

Peserta               : Pelajar pramuka tingkat penggalang perutusan Kwartir Cabang se-Daerah Istimewa Yogyakarta sejumlah 250 orang.   

 

 

Jadwal Kegiatan Jelajah Budaya 2018

 

 

No

Acara

Tempat

Waktu

1

Upacara Pembukaan

Candi Kalasan

08.00 - 08.15

2

Penanaman pohon

08.15 - 08.25

3

Pelepasan burung

08.25 - 08.30

4

Pembelajaran Pelestarian Cagar Budaya

08.30 - 09.00

5

Pelepasan peserta Jelajah Budaya 2018

09.00 - 09.05

6

Penjelajahan Situs Cagar Budaya

Rute Jelajah Budaya  ± 5, 3 km (Candi Kalasan (start) - Situs Watugudig - Candi Banyunibo (finish)

09.05 - 11. 50

7

Giat Prestasi Yel-Yel Kebangsaan

8

Wawasan Kebangsaan dan Kepramukaan

9

Pembelajaran Pelestarian Cagar Budaya

Candi Banyunibo

11.50 - 12.15

10

Istirahat

12.15 - 13.00

11

Sarasehan Cagar Budaya

13.00 - 14.30

12

Pengumuman Pemenang Giat Prestasi

14.30 - 15.00

13

Upacara Penutupan

15.00 - selesai

 

 

 

 

 



Back to top